Jumat, 19 Oktober 2012

Perampingan SOPD Sangat Logis

SINGKAWANG. Susunan Organisasi Perangkat Daerah (SOPD) Kota Singkawang dinilai terlalu gemuk. Perampingannya sangat logis, baik dilihat dari kemampuan keuangan daerah maupun beban kerja.

"Bayangkan saja, dengan SOPD yang sekarang ini, alokasi anggaran untuknya mencapai sekitar 70 persen. Sehingga belanja publik hanya 30 persen," kata Zainal Abidin HZ, Sekretaris Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Singkawang kepada wartawan, kemarin (16/10).

Alokasi anggaran yang terlalu besar untuk gaji pegawai, tunjangan dan kebutuhannya ini tentunya sangat tidak sesuai dengan harapan masyarakat Kota Singkawang yang mengharapkan agar pemerintah mengedepan pembangunan daerah.

Selain ditinjau dari beban anggaran itu, kata Zainal, dari beban kerja nampak sekali jumlah SOPD saat ini terlalu besar. "Sehingga tidak mengherankan banyak yang tidak efektif, misalnya kerja kecamatan itu apa. Kecamatan jadi kurang kerja," katanya.

Bandingkan antara SOPD Kota Singkawang dengan Kabupaten Pontianak yang wilayah kerjanya lebih luas. "Di Singkawang hanya terdapat lima kecamatan. Tetapi SOPD-nya mencapai 34 unit. Sedangkan di Kabupaten Ptk yang mempunyai belasan kecamatan hanya mempunyai 18 SOPD," ungkap Zainal.

Legislator PPP ini mengharapkan, dengan terpilihnya Awang Ishak-Abdul Mutalib sebagai Walikota dan Wakil Walikota Singkawang terpilih nanti, SOPD ini dapat lebih dirampingkan.

"Apalagi perampingan SOPD itu memang menjadi janji politik Pak Awang ketika kampanye selain mengutamakan penanganan permasalahan air bersih di Kota Singkawang," beber Zainal.

Terhadap perampingan SOPD nantinya, Zainal mengharapkan diramu sedemikian rupa agar lebih efektif dan efisien dalam menjalankan Tugas, Pokok dan Fungsi T(Tupoksi) serta tanggungjawabnnya dalam memberikan kepada masyarakat,

"Misalnya diperhatikan mana saja SOPD atau SKPD yang bisa dilebur agar kinerjanya lebih efektif, tetapi tidak terjadi beban kerja yang memberatkan pegawai," pungkas Zainal. (*)

Jumat, 27 Juli 2012

Data Pemilih Pilwako Singkawang Janggal

SINGKAWANG – Tim Sukses Bakal Calon (Balon) Nusantio Setiadi-Tasman (Nusantara) menemukan kejanggalan dalam Daftar Pemilih Sementara (DPS). Bila tidak segera disempurnakan, mereka akan membawanya ke ranah hukum. Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak gentar dengan ancaman tersebut.
"Setidaknya 15 hingga 20 kejanggalan dan keberatan dari daftar pemilih di seluruh TPS," kata Alexander A Spinoza, juru bicara Tim Nusantara pada jumpa pers di Rumah Nusantara Jalan Hermansyah, Singkawang, kemarin sore.
Alex–sapaan Alexander A Spinoza–menjelaskan, task force yang bekerja setelah menerima DPS dari KPU dan turun ke lapangan selama empat hari menemukan beberapa kejanggalan. Di antaranya terdapat nama pemilih yang perbedaannya hanya sedikit, tetapi tempat tanggal lahirnya sama.
Ada pula nama pemilih ganda dengan tanggal lahir yang sama, tetapi nomor urut pemilihnya berbeda. Selanjutnya, nama ganda tetapi NIK-nya berbeda. Nama ganda dengan alamat berbeda tetapi tanggal lahirnya sama.
"Misalkan di TPS 2 (Sekip Lama) ada nama yang sama sampai tiga kali, tetapi di nomor urut pemilihnya berbeda yakni 11, 213, dan 223. Kemudian juga di TPS 2 Bukit Batu, satu nama dengan dua nomor pemilih yakni 268 dan 404," kata Alex.
Kejanggalan yang sangat menonjol, ditemukannya pemilih yang dominan lahir pada 1 Juli. Persentasenya jauh lebih besar ketimbang dengan pemilih yang lahir pada tanggal dan bulan yang lain. Belum lagi banyak pemilih yang tidak mempunyai NIK juga besar.
Banyaknya pemilih yang lahir pada 1 Juli, menurut Alex, kemungkinan sewaktu pendataan, pada pemilih pertama yang tidak diketahui tanggal lahirnya dibuatkan data lahir pada 1 Juli oleh petugas. "Padahal kalau secara aturan, bagi orang yang tidak mengetahui tanggal lahirnya harus diberikan 1 Januari, bukan 1 Juli," jelasnya.
Alex juga mempertanyakan, dari mana sebenarnya KPU mendapatkan data seperti itu, karena kalau diperhatikan data pemilih untuk pilwako 2012 ini mirip dengan struktur yang digunakan pada 2009.
"KPU hendaknya bekerja secara maksimal, karena selain sebagai pelaksana atau penyelenggara, KPU adalah juri yang harus bersikap adil sehingga aturan main tetap harus dilaksanakan," kata Alex.
Temuan-temuan terkait data pemilih tersebut, kata Alex, akan dibawa ke ranah hukum bila KPU tidak segera menyempurnakannya. Menurut dia, penyempurnaan bisa dilakukan bila diawali dengan penelusuran dari mana data awal yang dipakai KPU itu.

Perbaiki dulu

Terpisah, Ketua KPU Kota Singkawang Solling SH menyambut positif temuan yang disampaikan Tim Nusantara. "Namun alangkah baiknya hasil survei tersebut disampaikan ke KPU terlebih dahulu untuk secara bersama-sama diperbaiki," katanya.
Solling menjelaskan, permasalahan data pemilih ini memang menjadi tanggung jawab penyelenggara pilwako. Tetapi, sebagai peserta, pasangan Nusantio Setiadi dan Tasman juga mempunyai tanggung jawab melakukan sosialisasi mengenai data pemilih.
"Sejak penyelenggaraan pemilu di Singkawang mulai 2007, yang kebetulan saya saat itu di divisi hukum, tidak ada sama sekali pelanggaran yang disampaikan itu terbukti dan biasanya mengenai dugaan pemilih fiktif itu hanya ada di warung kopi," ungkap Solling.
Dia juga tidak mempermasalahkan kalau Tim Nusantara ingin membawa temuan tersebut ke ranah hukum. "Silakan saja, tapi KPU juga berhak melakukan pembelaan," kata Solling.
Menurut Solling, untuk menyelesaikan permasalahan seperti terkait temuan Tim Nusantara itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. "Tidak semudah itu, ini kan bagaimana kita berupaya untuk meminimalisasi semua kejanggalan yang ditemukan," jelasnya.
Sementara itu anggota KPU Kota Singkawang Ridwan menyebutkan data yang digunakan KPU dari DP4 (dari Pemkot Singkawang) serta didapatkan dari data pemilu terakhir (pilpres 2009). "Kemudian data tersebut diterima dan dimutakhirkan petugas di lapangan," kata Ridwan.
Adanya pemilih yang namanya ganda, jelas Ridwan, saat ini petugas masih terus melakukan penyisiran di lapangan. Karena data yang ada masih DPS, masih bisa diubah sebelum ditetapkan menjadi DPT tingkat kelurahan pada 29 Juli nanti.
"Pernyataan ganda yang disampaikan Tim Nusantara bisa saja menurut versi mereka. Tapi alangkah baiknya hal tersebut disampaikan ke KPU untuk segera dilakukan pengecekan secara bersama-sama," kata Ridwan.
Terkait banyaknya pemilih yang lahir 1 Juli, tambah Ridwan, memang data yang diterima KPU seperti itu. Dan jika ditilik dari kronologisnya, pada 2007 lalu, saat pendataan yang dilaksanakan Disdukcapil jika ada orang yang tidak diketahui tanggal lahirnya, tapi telah memiliki hak pilih, direkomendasikan untuk diberikan tanggal 1 Juli. "Jadi tanggal lahir 1 Juli telah terisi sejak diserahkan pada saat itu," katanya.
Sementara mengenai nama pemilih tanpa NIK, kata Ridwan, karena ketika pendataan dan biasanya ini pemilih pemula, mereka masih ikut di kartu keluarga (KK) yang sama dengan orang tuanya. "KK-nya masih gabung, jadi mereka belum ada NIK, dan data ini tidak ada hubungannya dengan proses e-KTP yang sedang berlangsung," pungkas Ridwan. (*)

Selasa, 24 Juli 2012

Perang Baliho, Paswalu Pasrah

SINGKAWANG – Dikarenakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Singkawang belum menetapkan peserta Pemilihan Walikota (Pilwako) Singkawang, Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) tidak bisa berbuat apa-apa melihat perang baliho bakal kandidat.
"Tetapi baliho atau alat peraga lainnya itu bakal ditertibkan setelah KPU Kota Singkawang melakukan penetapan calon Walikota dan calon Wakil Walikota Singkawang," kata M Nasir SSos, Ketua Panwaslu Kota Singkawang kepada wartawan, Rabu (11/7).
Hingga kini, Panwaslu memang belum bisa berbuat apa-apa terkait menjamurnya alat peraga kampanye para bakal calon (balon). Pasalnya, selain belum memasuki masa kampanye, mereka yang terpampang di baliho itu belum ditetapkan sebagai calon.
Kendati belum ditetapkan sebagai calon Pilwako Singkawang, karena tahapannya memang belum masuk, baliho para figur itu sudah menjamur di Kota Singkawang. Hampir setiap sudut strategis di Kota Singkawang dipadati alat peraga kampanye itu, bahkan hingga ke rumah-rumah atau tempat usaha penduduk.
Baliho atau spanduk itu bukan hanya milik satu pasangan balon. Bahkan beberapa baliho terpajang berdekatan atau berdempetan. Seolah-olah berlomba siapa yang balihonya yang paling besar dan paling bagus.
Nasir menjelaskan, penertiban baru dapat dilakukan setelah dilakukan koordinasi terhadap KPU terkait lokasi mana saja yang diperbolehkan untuk memasang alat peraga kampanye. "Tetapi dalam penertiban ini, Panwaslu bukan sebagai eksekutor," jelasnya.
Dikarenakan figur tersebut belum ditetapkan sebagai peserta Pilwako Singkawang, kata Nasir, maka yang berhak menertibkan alat peraga kampanye itu merupakan instansi terkait, Dinas Tata Kota atau Satpol PP, atau yang memberikan perizinannya.
Nasir hanya mengimbau kepada balon atau tim suksesnya itu untuk memasang alat peraga kampanye di tempat-tempat yang tidak mengganggu ketertiban umum dan tentunya harus mengantongi izin, agar Kota Singkawang tidak kumuh karena baliho.
Terpisah, Kapolres Singkawang AKBP Prianto SIk mengingatkan kepada para balon dan tim suksesnya untuk tidak saling menjelek-jelekkan balon lainnya. "Hendaknya figur-figur ini menggunakan cara-cara yang masih dalam koridor kesopanan dan tidak melupakan etika serta tidak saling menjelek-jelekkan," imbaunya.
Dia mengatakan jangan tujuannya untuk mencari simpati masyarakat malah berdampak negatif bagi ketertiban umum. Misalnya karena ingin mencari massa malah menurunkan baliho atau spanduk lawan, ini tentunya akan menjadi masalah. "Lebih baik mencari simpatik warga itu dengan memberi bantuan fasilitas atau lainnya," saran Prianto.
Pria berbadan tinggi besar ini tidak melarang pemasangan baliho tersebut, selama tidak mengganggu ketertiban umum dan memenuhi ketentuan yang sudah berlaku terkait pasangan baliho atau spanduk. "Silakan saja memasang spanduk atau baliho, asalkan berkoordinasi dengan pemilik tempat atau berkoordinasi dengan instansi yang mengurus perizinannya. Terpenting jangan hal-hal seperti itu malah membangkitkan amarah warga," ingat Prianto.
Dia mengharapkan, agar semua pihak sama-sama menjaga agar Kota Singkawang ini tetap kondusif menjelang ataupun ketika berlangsungnya pilwako atau pilgub yang waktunya bersamaan. "Mari kita sama-sama menjaga agar Singkawang ini tetap kondusif," ajak Prianto. (*)

Mimilih Balon dari Balik Baliho

SINGKAWANG – Singkawang kini berubah menjadi kota seribu baliho. Wajah empat pasang kandidat walikota sudah dipampang masing-masing tim sukses di segala sudut kota. Figur yang mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga sudah resmi. Warga juga sudah tahu. Siapa yang paling elektabilitas?
"Saya masih belum menentukan pilihan. Karena memang belum bisa dipastikan siapa yang akan dipilih. Kita tunggu dan lihat saja dulu," kata A Liong, warga Jalan Alianyang ditemui Rakyat Kalbar lagi nongkrong di sebuah warung kopi, kemarin.
Kendati 20 September tinggal hitungan minggu, Aliong mengaku masih terlalu dini memilih pemimpin idolanya. Sebab KPU Kota Singkawang belum menetapkan siapa saja yang sah menjadi calon walikota di Pilwako Singkawang. Terlebih, ada isu yang meluncur, sekian pasangan itu bakal mengerucut.
"Saya mengetahui dan kenal siapa-siapa saja yang akan maju, baik dari media massa maupun atribut-atributnya. Tapi nanti dululah, masih cukup waktu," kata A Liong.
Senada diungkapkan oleh Artur, salah seorang abdi negara anggota Korpri. Dia belum mau menyebutkan siapa yang akan dipilihnya bukan karena Pegawai Negeri Sipil (PNS). "PNS kan juga mencoblos walaupun tidak boleh terlibat secara praktis," katanya.
Artur mengaku masih menunggu perkembangan kiprah-kiprah balon serta keseriusannya dalam membangun Kota Singkawang dengan maskot ikan tembakol itu. Kita belum baca secara detail di media apa saja yang masuk akal. "Bukan hanya saya yang belum menentukan pilihan hingga saat ini," ujarnya.
Menurut dia, para tetangga juga belum menghebohkan siapa yang akan dipilih untuk memimpin kota amoy ke depan. "Sangat jarang saya mendengar tetangga membicarakan siapa yang akan dipilihnya. Mungkin memang terlalu awal kalau menentukan pilihan. Mungkin warga masih berupaya mengenali siapa yang bisa memajukan Singkawang," kata Artur.
Beberapa warga lainnya juga rata-rata belum menyebutkan siapa yang akan dipilih di antara Hasan Karman-Ahyadi, Awang Ishack-Abdul Muthalib, Henoch Thomas-Rozanuddin, atau Nusantio-Tasman.
Tetapi ada pula warga yang sudah memastikan siapa yang akan dicoblosnya 20 September nanti. Seperti yang diakui warga Sekiplama, Hasikin. "Saya akan memilih Pak Tasman (calon wakil walikota, red)," katanya lugu.
Pilihannya jatuh kepada pasangan Nusantio Setiadi ini karena dilandasi beberapa hal. Di antaranya kiprah Tasman tidak diragukan lagi. "Dalam membantu warga, Pak Tasman tidak pilih-pilih. Siapa pun yang membutuhkan dibantunya," jelas Hasikin.
Secara kepribadian, kata Hasikin, mantan kepala sekolah itu juga sangat mengagumkan. "Beliau memang orang yang mempunyai tipe yang bagus, bukan hanya di dunia pendidikan, bergaul juga bagus. Ini penilaian saya pribadi, tetapi saya yakin masyarakat yang mengenalnya setuju akan itu," ungkapnya.
Lain halnya dengan A Lang, pemilik warkop di Alianyang. Kendati baru kali pertama menjadi pemilih, gadis ini lebih cenderung kepincut kepada incumbent, Hasan Karman. "Tentulah saya pilih yang lama, karena dia lebih mengetahui apa permasalahan Singkawang," katanya.
Selain itu, tambah dia, incumbent tidak perlu lagi menyesuaikan diri atau meraba-raba untuk membangun Singkawang dari awal lagi. "Karena sudah menjabat dan mulai dari dahulu, tentunya dia tinggal melanjutkan apa saja yang belum diselesaikan," ujar A Lang.
Tak beda apa yang diinginkan Shandy, warga Pasiran. Pria bersahaja ini juga menjatuhkan pilihannya kepada incumbent Hasan Karman. "Karena kalau kita memilih yang baru tentunya akan memulai dari nol lagi, kebijakan pemerintah berubah lagi dan lainnya," katanya.
Tetapi kalau memilih incumbent, kata Shandy, siapa pun sudah mengetahui apa yang dilakukan dalam membangun Kota Singkawang. "Kalaupun ada yang kurang dalam pembangunan, tinggal ditambah atau diteruskan," ujarnya.
Lain halnya kalau memilih yang baru, tambah dia, terlebih dahulu harus mengenal siapa orang tersebut, sejauh mana rekam jejaknya di masyarakat dan lainnya. "Kan harus tahu lagi siapa orangnya yang kita lihat di baliho-baliho itu. Makanya lebih baik saya memilih yang lama," tegas Shandy. (*)

Perang Baliho

SINGKAWANG – Kota Singkawang setakat ini sudah berubah status. Sebelumnya sebagai kota wisata yang berjuluk kota amoy atau kota seribu kelenteng, serta-merta berubah jadi kota "seribu baliho".
"Kalau bisa, dibatasi saja jumlah balihonya untuk setiap kandidat, tak usah semau hati," ungkap Fegga Ethika, mahasiswi yang warga Kelurahan Kuala, Kecamatan Singkawang Barat, kepada Rakyat Kalbar, kemarin.
Belum lagi masuk ke gerbang kota di mulut lembah alias sengkejong itu, belantara baliho, spanduk, umbul-umbul, hingga bendera partai sudah menyergap mata pengendara mobil atau motor. Karena itu berhati-hatilah menyetir, mata jangan lengah.
Nah, begitu masuk kota, nyaris tak satu pun lantai satu, dua, tiga, bahkan ruko berlantai empat tanpa ditebengi baliho dan spanduk. Hanya kelenteng, gereja, dan masjid yang tidak dipasangi baliho pasangan balon Walikota Singkawang. Tapi di pagar Masjid Agung Singkawang terpampang spanduk Morkes.
Kalau bangunan instansi pemerintah luput, namun di pagar sekolah spanduk pasangan balon tertentu membentang di sana-sini. Paling tidak, perang baliho antara pasangan Hasan-Ahyadi vs Nusantio-Tasman kentara mendominasi berbagai sudut kota.
Menjamurnya alat peraga kampanye tersebut ditanggapi beragam. Mulai yang tak acuh apatis, biasa-biasa saja, ngomel, dan tak kurang yang jengkel melihat Kota Singkawang bagaikan tempat camping raksasa.
"Pokoknya amburadul karut-marut lebih parah dari perayaan Capgome. Waktu Imlek malah indah, ada lampion dan sebagainya. Sekarang ini orang bisa sakit mata," ujar Ng Lip Tjai, warga Jakarta yang berlibur ke kampungnya, Singkawang.
Seperti dikesalkan Fegga tadi, hendaknya alat peraga kampanye itu jangan diletakkan di sembarang tempat oleh para tim sukses. "Kalau bisa lebih etis dan tidak mengganggu keamanan lalu lintas jalan raya dan tengah kota," katanya.
Perempuan berjilbab ini menunjuk alat peraga di pusat kota Jalan Diponegoro yang penuh bendera menimbulkan kesan kalau Kota Singkawang ini kumuh. "Kalau dipasang di pusat kota, tampaknya kotor dan kumuh. Secara pribadi sih tidak mengganggu, hanya kan tidak enak dilihat," kata Fegga.
Dia yakin banyaknya alat peraga kampanye itu bukan berarti pasti memenangkan pertarungan dalam Pemilihan Walikota (Pilwako) Singkawang 20 September mendatang. "Belum tentu juga, apa sih yang bisa dilihat selain tampang mereka," tandasnya.
Fegga lebih peduli terhadap tampilan kota wisata ini, begitu pula warga lainnya yang tidak ambil pusing dengan menjamurnya alat peraga kampanye. Warga Kelurahan Sekiplama, Sakani, merasa alat peraga kampanye tidak memengaruhinya untuk menentukan pilihan. "Biarkan saja banyak baliho, mungkin mereka banyak uang," selorohnya.
Tetapi pria paruh baya ini menyarankan ketimbang balon sibuk memperbanyak baliho yang tidak bermanfaat langsung, lebih baik uangnya disumbangkan ke masyarakat. "Kalau uang untuk membuat baliho itu disumbangkan ke masyarakat secara langsung, mungkin lebih baik dan bermanfaat," kata Sakani.
Lain lagi A Hin, warga yang tinggal di sekitar pasar ini melihat tujuannya mungkin bagus agar masyarakat lebih mengenal siapa yang akan dipilihnya. Tetapi tidak mesti harus begitu banyak memasang baliho. "Memang di satu sisi menguntungkan pengusaha jasa pembuatan baliho, tetapi di sisi lain kota kita jadi tidak enak dilihat," ujarnya.
Hanya saja, A Hin menyayangkan balon lebih sibuk memasang alat peraga kampanye ketimbang bertatap muka langsung dengan warga. "Belum jadi saja sudah membuat kota ini kumuh. Ini belum masuk masa kampanye, bagaimana kalau kampanye nanti," ingat A Hin.

Perlu penertiban

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Singkawang Drs Karyadi MSi mengatakan instansi terkait di Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang sudah berkoordinasi dengan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkait maraknya alat kampanye itu.
"Beberapa kali Satpol PP bersama instansi terkait melakukan penertiban terhadap alat peraga kampanye yang roboh, rusak dan mengganggu masyarakat pengguna jalan. Jadi kita tidak berpangku tangan melihat hal itu," kata Karyadi.
Dia juga koordinasi instansi terkait apakah alat peraga kampanye itu melanggar ketentuan perizinan pemasangan. "Pemasangan alat peraga kampanye itu tentunya harus berkoordinasi dengan instansi terkait, itu yang kita harapkan dari pemasang," ujarnya.
Pria berkumis tebal ini mengharapkan, semua pihak termasuk tim sukses atau pendukung balon dalam memasang alat peraga itu lebih mementingkan kepentingan umum. "Jangan sampai membahayakan masyarakat yang berlalu lalang," tegas Karyadi.
Dia sangat yakin tim sukses tiap pasangan balon sudah mengetahui betul terkait hal-hal yang tidak mengganggu kepentingan umum. "Kepentingan umum itu jangan diabaikan," ingat Karyadi.
Sementara itu, Ketua Panwaslu Kota Singkawang M Nasir SSos tidak bisa berbuat apa-apa. Pria ramah ini sekadar berjanji akan menertibkannya. "Baliho atau alat peraga lainnya itu bakal ditertibkan setelah KPU Kota Singkawang melakukan penetapan calon Walikota dan calon Wakil Walikota Singkawang," kata Nasir.
Hingga kini, Panwaslu masih menatap saja ke baliho dan alat peraga lainnya. Penertiban baru dapat dilakukan setelah koordinasi dengan KPU terkait lokasi mana saja yang diperbolehkan untuk memasang alat peraga kampanye. "Tetapi dalam penertiban ini, Panwaslu bukan sebagai eksekutor," jelasnya.
Dikarenakan figur tersebut belum ditetapkan sebagai peserta Pilwako Singkawang, kata Nasir, maka yang berhak menertibkan alat peraga kampanye itu merupakan instansi terkait, yakni Dinas Tata Kota atau Satpol PP atau yang mengeluarkan perizinannya.
Nasir hanya mengimbau balon atau tim suksesnya untuk memasang alat peraga kampanye di tempat-tempat yang tidak mengganggu ketertiban umum dan tentunya harus mengantongi izin, agar Kota Singkawang tidak kumuh karena baliho.
Terpisah, Kapolres Singkawang AKBP Prianto SIk mengingatkan kepada para balon dan tim suksesnya untuk tidak saling menjelek-jelekkan balon lainnya. "Hendaknya figur-figur ini menggunakan cara-cara yang masih dalam koridor kesopanan dan tidak melupakan etika serta tidak saling menjelek-jelekkan," imbaunya.
Dia mengingatkan, tujuannya untuk mencari simpati masyarakat malah berdampak negatif bagi ketertiban umum. Misalnya karena ingin mencari massa malah menurunkan baliho atau spanduk lawan. "Lebih baik mencari simpatik warga itu dengan memberi bantuan fasilitas atau lainnya," saran Prianto.
Pria berpostur tinggi besar ini tidak melarang pemasangan baliho, selama tidak mengganggu ketertiban umum dan memenuhi ketentuan yang sudah berlaku terkait pasangan baliho atau spanduk.
"Silakan saja, asalkan berkoordinasi dengan pemilik tempat atau berkoordinasi dengan instansi yang mengurus perizinannya. Terpenting jangan hal-hal seperti itu malah membangkitkan amarah warga," ingat Prianto.
Dia mengharapkan, agar semua pihak sama-sama menjaga agar Kota Singkawang ini tetap kondusif menjelang ataupun ketika berlangsungnya pilwako atau pilgub yang waktunya bersamaan. "Mari kita sama-sama menjaga agar Singkawang ini tetap kondusif," ajak Prianto.
Ketua Komisi Divisi Data, Informasi, Humas dan Hubungan Antarlembaga KPU Kota Singkawang Ridwan SE mengungkapkan, penetapan peserta Pemilu DILAKUKAN 4 Agustus mendatang. "Pada tanggal tersebut kita umumkan siapa saja calonnya yang menjadi peserta pilwako dan pencabutan nomor urut calon," katanya.
Hingga kini, ungkap Ridwan, semua balon, yakni Hasan Karman-Ahyadi, Awang Ishack-Abdul Muthalib, Henoch Thomas-Rozanuddin, dan Nusantio Setiadi-Tasman sudah melengkapi semua persyaratan. "Untuk menentukan yang lolos, akan diplenokan dulu di KPU," katanya. (*)

Semua Kandidat Kuat dan Saingan Berat

SINGKAWANG – Tidak ada yang tidak kuat dari empat pasangan bakal calon (balon) walikota yang akan bertarung memperebutkan kursi nomor satu di Pilwako Singkawang, 20 September nanti.
Begitu pengakuan Rozanuddin kepada Rakyat Kalbar, kemarin. "Semua kuat dan (saingan, red) berat, terutama incumbent," kata balon wakil pasangan Henoch Thomas ini serius.
Dia tidak menutup mata atas kesiapan dan elektabilitas incumbent Hasan Karman yang maju berpasangan dengan Ahyadi. "Sebab dia didukung dengan fasilitas dan pasukan," kata Rozanuddin.
Demikian pula dengan Awang Ishack. Jangan abaikan mantan walikota yang maju berpasangan dengan Abdul Muthalib ini, juga dinilai sebagai pesaing yang kuat dan berat karena juga cukup dikenal masyarakat luas.
Tidak terlepas dari kuda hitam pasangan Nusantio-Tasman. Pasangan ini dinilai kuat karena didukung finansial yang tidak terbatas dalam hal pencitraan. "Kami sendiri memang tidak diperhitungkan," aku Rozanuddin.
Kendati mengakui kekuatan kandidat lainnya, bukan berarti Rozanuddin yang mendampingi Henoch Thomas ini gentar. "Masyarakat Singkawang sudah cerdas, bisa memilah mana yang baik dan buruk," kata anggota DPRD Kota Singkawang ini.
Dengan kata lain, dukungan fasilitas, pasukan, dan finansial yang dimiliki masing-masing balon bukan jaminan pasti akan dipilih warga Singkawang. "Siapa yang akan memimpin ke depan, ada di tangan masyarakat Kota Singkawang sendiri," katanya.
Karena itu dia mengaku tidak pesimis apalagi ciut untuk bertarung secara jujur dan adil, karena suara rakyat menentukan. "Apalagi kita ini ada plus-minusnya (di mata masyarakat, red)," ujarnya.
Rozanuddin mengharapkan kepada masyarakat Singkawang untuk memilih pemimpinnya bukan semata karena kemampuan materi atau pertimbangannya lainnya. "Harapan kami gunakan hati nurani untuk memilih pemimpin Singkawang mendatang," kata Ketua Partai Hanura Singkawang ini.
Keikutsertaan Henoch Thomas-Rozanuddin (Hero) sejak awal memang sudah diragukan beberapa kalangan. Bahkan dianggap tidak serius untuk maju ke pilwako.
Keraguan beberapa kalangan sudah terjawab ketika Hero menjadi balon pertama yang mendaftarkan diri ke KPU Kota Singkawang, 5 Juni lalu.
Menjadi pendaftar pertama jadi alasan kuat untuk membuktikan kepada masyarakat. "Dipilihnya mendaftar pada hari pertama untuk menjawab isu miring tentang kedua calon ini yang dikatakan hanya main-main untuk maju menjadi peserta pemilu," kata Harun selaku tim suksesnya.
Henoch Thomas, pengusaha muda Kota Singkawang menyatakan siap bertarung di Pilwako Singkawang. "Kami memilih hari pertama, menunjukkan kalau kami siap bertarung untuk menang," kata Henoch.

Dukungan kandidat

Sejauh ini warga Singkawang ternyata masih banyak yang belum tahu semua kandidat yang akan bertarung, selain incumbent Dr Hasan Karman SH MM yang saat ini masih sebagai Walikota Singkawang bersama Drs Edy R Yacoub MSi. Sebelumnya, Hasan adalah pengusaha dan pernah berkarier di PT Barito Pacific Timber Group selama delapan tahun yang kemudian menjadi advokat.
Pada pilwako 2012 kali ini, Hasan Karman menggandeng Drs Ahyadi MM, Kepala Dinas Pendidikan Kota Singkawang yang juga bekas Kepala Dishubkominfo. Pasangan HK-AD didukung Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PIB) dengan empat kursi atau 16 persen di DPRD. Berkoalisi dengan PDIP dan Partai Demokrat masing-masing tiga kursi atau 12 persen. Total dukungan pasangan ini 10 kursi atau 40 persen di dewan.
Kemudian, Drs Awang Ishack MSi, anggota DPRD Kota Singkawang dari Partai Persatuan Daerah, mantan Walikota Singkawang periode 2002-2007. Kali ini Awang maju bersama H Abdul Mutalib SE ME, juga anggota dewan dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang juga pengusaha.
Pasangan A2 ini didukung Partai Golkar dengan tiga kursi atau 12 persen, PPP satu kursi atau empat persen, PAN dua kursi delapan persen, PKB satu kursi atau empat persen, dan PKS satu kursi atau empat persen. Total dukungan pasangan ini delapan kursi atau 32 persen.
Pasangan kandidat Henoch Thomas SE MM, pria kelahiran Singkawang, 12 Oktober 1968, itu berpasangan dengan Rozanuddin SP, anggota DPRD Kota Singkawang dari Partai Hanura. Pasangan Hero didukung 13 parpol, yaitu Hanura, Kedaulatan, PIS, PKNU, PNBKI, PDP, PPPI, PDS, PPNUI, BARNAS, PPRN, RepublikaN, dan PKDI. Total dukungan suara 15.111 atau 18,61 persen.
Kandidat terakhir, pasangan Nusantio Setiadi SH MM dan Tasman SPd, anggota DPRD Kota Singkawang dari Partai Gerindra. Nusantio, pengusaha yang terkenal berjiwa sosial tinggi.
Dalam kiprah sosial kemasyarakatan, Nusantio yang juga penyandang cacat ini sebagai Penasihat Organisasi Penyandang Cacat Kota Singkawang. Dia memilih Tasman, pendidik yang mantan Kepala Dinas Pendidikan Kota Singkawang, dan pernah menjadi Kepala SMAN 1 Singkawang.
Pasangan Nusantara ini didukung oleh parpol Pakar Pangan dan Gerindra yang masing-masing memperoleh dua kursi di DPRD Kota Singkawang. Sehingga perolehan tersebut menjadi empat kursi atau 16 persen. (*)

Di Bawah Bayang-Bayang Simbol

Pemilihan Walikota Singkawang 2012 yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas demokrasi kini sarat dengan hiruk-pikuk mengejar target kemenangan. Berbagai fenomena politik dalam riak kecil dan besar muncul sangat menarik.
Fenomena simbol-simbol politik pun bermunculan bersamaan dengan euphoria sosialisasi bakal calon (balon) dan unjuk diri para pengusung, baik melalui bendera, baliho, spanduk serta atribut lainnya yang menghiasi sudut-sudut strategis. Jumlah dan warnanya sangat banyak serta beragam dengan segala ukuran. Cara pemasangan, pengamanan latar etika tanpa memandang standar atau tolok ukur tertentu.
Simbol-simbol politik yang dipertontonkan balon beserta pengusungnya memunculkan tiga perwujudan (konfigurasi). Pertama, sebagai ideologi perjuangannya, Kedua, mempunyai makna kekuasaan, dan ketiga sebagai identitas kolektif.
Simbol tersebut menjadi wujud ideologi perjuangan, karena dijadikan inspirasi perjuangan yang berujung pada perilaku politik. Sehingga hanya dengan melihat simbol tadi, masyarakat diharapkan sudah dapat menilai serta memahami perilaku balon dan pengusungnya dalam berpolitik.
Selain menginspirasi perjuangan, simbol-simbol itu juga mempunyai makna kekuasaan, karena dengannya akan tumbuh dorongan (motivasi) untuk berkompetisi (mencari lawan) dan berkoalisi (mencari kawan).
Simbol-simbol tersebut juga menjadi identitas kolektif. Sehingga masyarakat mudah mengenali mana saja orang Si A, orang Si B, orang Si C, atau orang Si D dan seterusnya, sesuai dengan jumlah balon yang akan bertarung dalam pemilukada 20 September mendatang.
Dari ketiga perwujudan tersebut, menjadikan simbol mempunyai dua dimensi yang tidak terelakkan. Pertama, ditanggapi sebagai benda kasatmata seperti bendera, baliho, atau spanduk. Sehingga keberadaannya selalu dikaitkan dengan kesemrawutan, tata kota, penertiban, dan lainnya.
Kedua, simbol itu ditanggapi sebagai pancaran nurani tentang moralitas dan kualitas. Sehingga mengekspresikan kewibawaan, martabat, kecerdasan, rekam jejak serta kualitas balon dan pengusungnya.
Apakah pemilih sangat peduli dan percaya dengan simbol-simbol tersebut? Jawabannya tentu individualistik. Latar belakang pendidikan, wawasan, dan lainnya sangat menentukan jawaban dari pemilih.
Terlepas dari apakah simbol-simbol tersebut mampu atau tidak memengaruhi pemilih dalam menentukan pilihan dan tujuan politik balon atau pengusung tertentu. Sudah sepatutnya spirit keberadaannya patut diapresiasi, karena menunjukkan keberagaman (plural) yang menjadi ciri masyarakat Kalbar dan Kota Singkawang khususnya.
Hanya saja, tampilan simbol-simbol yang membayangi pemilukada ini perlu dikelola secara lebih profesional, berbudaya, dan berstandar dengan memerhatikan solidaritas dan kualitas, berbasis kaidah hukum, martabat, keindahan, keadilan, dan demokrasi. Agar keberadaan simbol yang selalu membayangi pemilukada itu benar-benar bermakna keberagaman Kota Singkawang, bukan malah bikin blunder dan bahkan chaos.(*)

HK: Ancaman?..heheheh

SINGKAWANG – Sebagai incumbent, Hasan Karman (HK) menjadi sasaran "tembak" para pesaingnya di Pilwako Singkawang 2012. Dari 100 warung kopi di kota amoy itu, gunjingan yang beredar adalah Nursantio Setiadi jadi ancaman bagi HK.
 "Ancaman? Hehehe... Iklan kecap selalu mau nomor satu. Sama sekali tidak ada yang menjadi ancaman," ujar Hasan Karman enteng menjawab pertanyaan wartawan Rakyat Kalbar via selularnya, Minggu (8/7) sore.
Persaingan ketat antara Hasan Karman dengan Nursantio yang tak lain bekas tim sukses di periode pertama itu menjadi jadi topik hangat di semua ranah mulai dari warung kopi hingga pegawai negeri.
Disebut-sebut pernah mendukungnya di pilwako 2007, HK tidak menyebutkan secara pasti apakah memang benar Nursantio Setiadi pernah menjadi tim sukses yang mengantarkan kemenangannya ke kursi Walikota Singkawang 2007.
Dia hanya mengetahui pendukungnya pada Pilwako Singkawang 2007 begitu banyak ragamnya. "Ada penggembira, ada yang hanya numpang nama, dan ada yang namanya tidak mau disebutkan, namun bekerja keras. Bahkan banyak berkorban untuk kemenangan saat itu," kata HK.
Lalu Nursantio Setiadi masuk tipe yang mana, apakah memang berperan signifikan dalam mengantarkan HK menjadi Walikota Singkawang periode 2007-2012. "Silakan Anda tanya sendiri kepada yang bersangkutan (Nursantio Setiadi, red) di posisi mana, apakah penggembira, sekadar numpang nama, atau yang sungguh-sungguh bekerja keras," kata HK.
Sayangnya, Nursantio Setiadi kemarin sedang berada di Jakarta. Setidaknya itu yang dikatakan orang dekatnya ketika Rakyat Kalbar akan menemuinya di kediamannya atau markasnya di Jalan Hermansyah Singkawang. Selularnya pun tidak aktif.
HK meminta untuk menanyakan "posisi" Nursantio Setiadi pada pilwako 2007 lalu. "Saya sendiri tahu pendukung sejati saya, mereka tidak pernah menonjolkan diri karena ini adalah perjuangan bersama," kata HK.
Keikutsertaan Nursantio Setiadi dalam pertarungan seru pilwako 2012 kendati menurut HK bukan sebagai ancaman, karena ancaman baginya bukan dari orang-orang yang dulunya sejalan lalu berseberangan dengannya. "Yang menjadi ancaman hanya jika tidak ada dukungan lagi dari akar rumput dan tidak dipilih oleh rakyat," jelas HK.
Tak Nursantio Setiadi, kandidat lainnya seperti mantan Walikota Ishack dan pengusaha muda Henoch Thomas yang juga bakal jadi ancaman dinilai HK lumrah saja. Dia merasa telah membuktikan diri selama lima tahun Singkawang. "Saya tidak merasa ada pesaing yang terberat di antara sekian banyak kandidat," tegas HK.
Merasa bukan bentuk kesombongan dan bukan pula isapan jempol belaka, HK punya alasan kuat menganggap kandidat lain bukan pesaing berat. "Dari hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI), konsultan independen yang jasanya digunakan oleh partai pengusung kami, posisi kami tetap terunggul. Selisih persentase kami dengan kandidat lain sangat jauh," ungkap HK yang maju berpasangan dengan Ahyadi (Kadis Pendidikan Singkawang) ini.
Kendati survei menunjukkan HK unggul, bukan berarti berpangku tangan dan berpuas diri. Pria yang menjadi kerabat Keraton Surakarta dengan gelar Kanjeng Raden ini telah siap dengan strategi jitunya. "Saya hanya menjalankan langkah dan strategi kemenangan yang kami gariskan," tegasnya.
HK bahkan optimis perolehan suaranya lebih baik ketimbang Pilwako Singkawang 2007. "Prediksi kami, perolehan suara akan melebihi 2007," katanya yakin.
Optimis HK memancing pertanyaan, basis mana saja pendukungnya. Apakah golongan atau pihak-pihak yang memang mendominasi di Kota Singkawang. "Suara pemilih saya dari semua kalangan, kita tidak pernah mengotak-ngotakkan masyarakat, jangan berandai-andai," ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, HK berkeyakinan Pilwako Singkawang 2012 yang digelar 20 September mendatang hanya satu putaran. "Kita pastikan hanya satu putaran, tidak usah berspekulasi macam-macam," katanya.
Bahkan dia tak gubris dengan black campaign ataupun money politic di Pilwako Singkawang mendatang. "Ada yang berpikir black campaign itu masih efektif, ternyata itu hanya upaya bodoh. Ada juga berpikir money politic bisa membeli suara hati rakyat, ternyata mereka hanya buang-buang duit saja dan dikerjain sukses timnya (bukan tim sukses, red). Hehe…." tutupnya. (*)
Ada kesalahan di dalam gadget ini

SAMPAI JUMPA LAGI

SEMOGA ANDA MEMPEROLEH SESUATU YANG BERGUNA