Tuesday, 24 July 2012

Di Bawah Bayang-Bayang Simbol

Pemilihan Walikota Singkawang 2012 yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas demokrasi kini sarat dengan hiruk-pikuk mengejar target kemenangan. Berbagai fenomena politik dalam riak kecil dan besar muncul sangat menarik.
Fenomena simbol-simbol politik pun bermunculan bersamaan dengan euphoria sosialisasi bakal calon (balon) dan unjuk diri para pengusung, baik melalui bendera, baliho, spanduk serta atribut lainnya yang menghiasi sudut-sudut strategis. Jumlah dan warnanya sangat banyak serta beragam dengan segala ukuran. Cara pemasangan, pengamanan latar etika tanpa memandang standar atau tolok ukur tertentu.
Simbol-simbol politik yang dipertontonkan balon beserta pengusungnya memunculkan tiga perwujudan (konfigurasi). Pertama, sebagai ideologi perjuangannya, Kedua, mempunyai makna kekuasaan, dan ketiga sebagai identitas kolektif.
Simbol tersebut menjadi wujud ideologi perjuangan, karena dijadikan inspirasi perjuangan yang berujung pada perilaku politik. Sehingga hanya dengan melihat simbol tadi, masyarakat diharapkan sudah dapat menilai serta memahami perilaku balon dan pengusungnya dalam berpolitik.
Selain menginspirasi perjuangan, simbol-simbol itu juga mempunyai makna kekuasaan, karena dengannya akan tumbuh dorongan (motivasi) untuk berkompetisi (mencari lawan) dan berkoalisi (mencari kawan).
Simbol-simbol tersebut juga menjadi identitas kolektif. Sehingga masyarakat mudah mengenali mana saja orang Si A, orang Si B, orang Si C, atau orang Si D dan seterusnya, sesuai dengan jumlah balon yang akan bertarung dalam pemilukada 20 September mendatang.
Dari ketiga perwujudan tersebut, menjadikan simbol mempunyai dua dimensi yang tidak terelakkan. Pertama, ditanggapi sebagai benda kasatmata seperti bendera, baliho, atau spanduk. Sehingga keberadaannya selalu dikaitkan dengan kesemrawutan, tata kota, penertiban, dan lainnya.
Kedua, simbol itu ditanggapi sebagai pancaran nurani tentang moralitas dan kualitas. Sehingga mengekspresikan kewibawaan, martabat, kecerdasan, rekam jejak serta kualitas balon dan pengusungnya.
Apakah pemilih sangat peduli dan percaya dengan simbol-simbol tersebut? Jawabannya tentu individualistik. Latar belakang pendidikan, wawasan, dan lainnya sangat menentukan jawaban dari pemilih.
Terlepas dari apakah simbol-simbol tersebut mampu atau tidak memengaruhi pemilih dalam menentukan pilihan dan tujuan politik balon atau pengusung tertentu. Sudah sepatutnya spirit keberadaannya patut diapresiasi, karena menunjukkan keberagaman (plural) yang menjadi ciri masyarakat Kalbar dan Kota Singkawang khususnya.
Hanya saja, tampilan simbol-simbol yang membayangi pemilukada ini perlu dikelola secara lebih profesional, berbudaya, dan berstandar dengan memerhatikan solidaritas dan kualitas, berbasis kaidah hukum, martabat, keindahan, keadilan, dan demokrasi. Agar keberadaan simbol yang selalu membayangi pemilukada itu benar-benar bermakna keberagaman Kota Singkawang, bukan malah bikin blunder dan bahkan chaos.(*)

HK: Ancaman?..heheheh

SINGKAWANG – Sebagai incumbent, Hasan Karman (HK) menjadi sasaran "tembak" para pesaingnya di Pilwako Singkawang 2012. Dari 100 warung kopi di kota amoy itu, gunjingan yang beredar adalah Nursantio Setiadi jadi ancaman bagi HK.
 "Ancaman? Hehehe... Iklan kecap selalu mau nomor satu. Sama sekali tidak ada yang menjadi ancaman," ujar Hasan Karman enteng menjawab pertanyaan wartawan Rakyat Kalbar via selularnya, Minggu (8/7) sore.
Persaingan ketat antara Hasan Karman dengan Nursantio yang tak lain bekas tim sukses di periode pertama itu menjadi jadi topik hangat di semua ranah mulai dari warung kopi hingga pegawai negeri.
Disebut-sebut pernah mendukungnya di pilwako 2007, HK tidak menyebutkan secara pasti apakah memang benar Nursantio Setiadi pernah menjadi tim sukses yang mengantarkan kemenangannya ke kursi Walikota Singkawang 2007.
Dia hanya mengetahui pendukungnya pada Pilwako Singkawang 2007 begitu banyak ragamnya. "Ada penggembira, ada yang hanya numpang nama, dan ada yang namanya tidak mau disebutkan, namun bekerja keras. Bahkan banyak berkorban untuk kemenangan saat itu," kata HK.
Lalu Nursantio Setiadi masuk tipe yang mana, apakah memang berperan signifikan dalam mengantarkan HK menjadi Walikota Singkawang periode 2007-2012. "Silakan Anda tanya sendiri kepada yang bersangkutan (Nursantio Setiadi, red) di posisi mana, apakah penggembira, sekadar numpang nama, atau yang sungguh-sungguh bekerja keras," kata HK.
Sayangnya, Nursantio Setiadi kemarin sedang berada di Jakarta. Setidaknya itu yang dikatakan orang dekatnya ketika Rakyat Kalbar akan menemuinya di kediamannya atau markasnya di Jalan Hermansyah Singkawang. Selularnya pun tidak aktif.
HK meminta untuk menanyakan "posisi" Nursantio Setiadi pada pilwako 2007 lalu. "Saya sendiri tahu pendukung sejati saya, mereka tidak pernah menonjolkan diri karena ini adalah perjuangan bersama," kata HK.
Keikutsertaan Nursantio Setiadi dalam pertarungan seru pilwako 2012 kendati menurut HK bukan sebagai ancaman, karena ancaman baginya bukan dari orang-orang yang dulunya sejalan lalu berseberangan dengannya. "Yang menjadi ancaman hanya jika tidak ada dukungan lagi dari akar rumput dan tidak dipilih oleh rakyat," jelas HK.
Tak Nursantio Setiadi, kandidat lainnya seperti mantan Walikota Ishack dan pengusaha muda Henoch Thomas yang juga bakal jadi ancaman dinilai HK lumrah saja. Dia merasa telah membuktikan diri selama lima tahun Singkawang. "Saya tidak merasa ada pesaing yang terberat di antara sekian banyak kandidat," tegas HK.
Merasa bukan bentuk kesombongan dan bukan pula isapan jempol belaka, HK punya alasan kuat menganggap kandidat lain bukan pesaing berat. "Dari hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI), konsultan independen yang jasanya digunakan oleh partai pengusung kami, posisi kami tetap terunggul. Selisih persentase kami dengan kandidat lain sangat jauh," ungkap HK yang maju berpasangan dengan Ahyadi (Kadis Pendidikan Singkawang) ini.
Kendati survei menunjukkan HK unggul, bukan berarti berpangku tangan dan berpuas diri. Pria yang menjadi kerabat Keraton Surakarta dengan gelar Kanjeng Raden ini telah siap dengan strategi jitunya. "Saya hanya menjalankan langkah dan strategi kemenangan yang kami gariskan," tegasnya.
HK bahkan optimis perolehan suaranya lebih baik ketimbang Pilwako Singkawang 2007. "Prediksi kami, perolehan suara akan melebihi 2007," katanya yakin.
Optimis HK memancing pertanyaan, basis mana saja pendukungnya. Apakah golongan atau pihak-pihak yang memang mendominasi di Kota Singkawang. "Suara pemilih saya dari semua kalangan, kita tidak pernah mengotak-ngotakkan masyarakat, jangan berandai-andai," ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, HK berkeyakinan Pilwako Singkawang 2012 yang digelar 20 September mendatang hanya satu putaran. "Kita pastikan hanya satu putaran, tidak usah berspekulasi macam-macam," katanya.
Bahkan dia tak gubris dengan black campaign ataupun money politic di Pilwako Singkawang mendatang. "Ada yang berpikir black campaign itu masih efektif, ternyata itu hanya upaya bodoh. Ada juga berpikir money politic bisa membeli suara hati rakyat, ternyata mereka hanya buang-buang duit saja dan dikerjain sukses timnya (bukan tim sukses, red). Hehe…." tutupnya. (*)

Balon Walikota Ditantang Terjun ke Sungai

SINGKAWANG – Sepertinya empat pasang bakal calon (balon) walikota perlu diuji sekalian dipelonco apakah mengenal Sungai Singkawang yang dulu jernih kini sudah kumuh itu.
"Jangan hanya bicara peduli lingkungan atau cuma janji-janji tapi tidak mau action," kata Uray Albert SH, Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Publik kepada RK, kemarin.
Maksud Albert lumayan baik, bukan para balon walikota mesti berkubang lumpur Sungai Singkawang yang kian dangkal sehingga ancaman banjir sudah menjadi langganan tiap musim penghujan. "Dari dahulu hingga sekarang pendangkalannya makin parah dan menebar bau tak sedap," ungkapnya.
Memang bukan kali ini Albert menyesali kondisi sungai yang membelah kota sekaligus drainase utama (primer) itu. Lelaki yang peduli dan penggiat lingkungan ini sudah berkali mendorong instansi terkait, mengkritik, bahkan jengkel lantaran sungai yang tinggal satu itu tak ditangani.
Nah, begitu mendengar berbagai visi dan misi yang diusung beberapa balon dalam membangun Kota Singkawang, ini kesempatan membuktikan jangan NATO (no action talk only).
"Mereka akan kita undang untuk bersama-sama membersihkan Sungai Singkawang. Kalau mereka tidak datang berarti mereka tidak peduli dengan lingkungan," tantang Albert.
Memerhatikan lingkungan, termasuk kondisi Sungai Singkawang ini, menurut Albert, merupakan cikal bakal pembangunan Kota Amoy ini. "Kalau lingkungan bersih, generasi muda kita menjadi tangguh, sehat, dan dapat menuntut ilmu untuk meningkatkan kualitasnya demi pembangunan Singkawang ke depannya," papar pria berbadan tipis ini.
Albert berharap para Balon Walikota Singkawang juga peduli lingkungan hidup, bukan hanya janji-janji politik hasilnya politis. Mari action bersama warga. Kepedulian akan memotivasi warga Singkawang untuk turun memerhatikan sungainya. "Kalau pemimpin tidak peduli terhadap lingkungan hidup, apa kata dunia," kelakarnya.
Terkait action para balon itu, Albert juga telah menyiapkan suatu kegiatan yang diberinya tema "Sungaiku Sayang, Sungaiku Malang". Kegiatan tersebut berupa Bersih-bersih Wonderful Sungai Singkawang yang akan dilaksanakan 13 Juli mendatang pada pukul 06.00. "Dalam kegiatan ini kita melibatkan anak-anak sekolah, kalau para balon tidak terlibat, berarti mereka memang tidak peduli lingkungan hidup," ujarnya.
Tantangan Albert ini bukan berarti dia tidak pernah mendengar penjelasan dari berbagai pihak, termasuk dari Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang terhadap kondisi sungainya.
Dia mengaku berkali-kali mendengar permasalahannya tetapi hingga kini kondisi sungai yang pernah menjadi pelabuhan di masa lalu itu tidak berubah. Malah tambah dangkal, kotor, air tak mengalir sehingga menebar aroma tidak sedap.
Sebelumnya, Walikota Hasan Karman yang kini juga sebagai salah seorang balon pilwako 2012 telah berkali-kali menjelaskan tentang permasalahan Sungai Singkawang.
Dia mengatakan, terkait normalisasi sungai tentunya bukan persoalan mudah, karena membutuhkan dana yang tidak sedikit. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menjolok dana dari pusat, tetapi hingga kini belum membuahkan hasil.
Pemkot Singkawang mengharapkan kucuran dana dari pusat untuk normalisasi Sungai Singkawang, karena tidak bisa hanya mengandalkan APBD. Salah satu upaya yang sangat diharapkan tentunya dari peran masyarakat, untuk tidak membuang sampah di sungai dan lainnya.
Hasan Karman tentu saja menolak bila dikatakan tidak peduli dengan Sungai Singkawang dan hal itu sudah berkali-kali disampaikannya melalui berbagai media. Apalagi Sungai Singkawang itu mempunyai kenangan tersendiri baginya.
Dalam suatu waktu dia pernah menceritakan, ketika masih kecil sering ikut pembantu atau pengasuhnya untuk mencuci pakaian di tangga Sungai Singkawang, dan dia mengaku sangat senang saat itu, karena air sungai masih mengalir lancar dan bersih.
Menurut dia, ketika itu masih sangat mudah untuk mendapatkan ikan betutu di Sungai Singkawang, cukup dengan memasang keranjang bekas dan diangkat perlahan-lahan.
Hasan mengatakan bagi warga yang lahir di akhir 1970-an, mungkin tidak pernah merasakan pengalaman berenang di Sungai Singkawang. Dia yang pernah berenang di sungai itu sulit menggambarkan nostalgianya. (*)

Tangkal Byarpet dengan 22 Kontainer Mesin

SINGKAWANG – Setelah 21 Juli 2012 atau memasuki hari ketiga bulan suci Ramadan 1433 Hijriah (bila puasa dimulai 19 Juli), listrik di Sistem Khatulistiwa mengalami kelebihan daya (surplus) sekitar 7 megawatt, berarti tidak akan terjadi pemadaman.
"Kebutuhan daya pada Sistem Khatulistiwa akan aman," kata Idaman ST, Manajer PLN Sektor Kapuas ketika jumpa pers di PLTD Sungai Wie, Kota Singkawang, Minggu (15/7).
Sistem Khatulistiwa tersebut meliputi Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, sebagian Ngabang, Kota Singkawang, sebagian Kabupaten Sambas, dan sebagian Kabupaten Bengkayang. "Jika masih terjadi kendala di sistem pembangkitan yang sifatnya temporer, maka sedapat mungkin pemadaman terencana adalah penyulang nonumum. Sehingga penyulang umum relatif aman, khususnya di bulan suci Ramadan dan Idulfitri," jelas Idaman.
Tidak akan terjadi pemadaman terencana sebagai akibat kekurangan daya selama bulan puasa itu, dikarenakan PLN sudah menyewa mesin 20 megawatt yang ditempatkan di PLTD Sungai Wie, Singkawang.
Mesin yang disewa tersebut ditempatkan dalam 22 kontainer. Dari jumlah tersebut, 20 kontainer beroperasi setiap hari dan 2 kontainer lagi sebagai cadangan, yang akan digunakan bila salah satu unit mesin dalam kontainer itu mengalami gangguan.
Idaman mengungkapkan, sebelum beroperasinya mesin sewa 20 megawatt di Singkawang, kondisi daya mampu Sistem Khatulistiwa 195,2 megawatt, terdiri atas daya mampu Pusat Listrik di Pontianak 177,1 megawatt dan Pusat Listrik Singkawang 18,1 megawatt.
Daya mampu di dua Pusat Listrik tersebut tidak sebanding dengan beban daya di Sistem Khatulistiwa yang mencapai 209 megawatt. Sehingga selama ini Sistem Khatulistiwa mengalami kekurangan (defisit) daya sekitar 13,8 megawatt.
Setelah mesin sewa di PLTD Sungai Wie itu beroperasi, Sistem Khatulistiwa tidak lagi mengalami defisit daya listrik. Malah menjadi kelebihan (surplus) daya 7 megawatt.
Mesin sewa itu didatangkan dalam dua tahap. Pada tahap pertama didatangkan mesin berdaya 10 megawatt (10 kontainer) pada 14 Juli 2012 dan tahap kedua juga 10 megawatt diperkirakan 21 Juli mendatang. Berarti total daya dari mesin itu mencapai 20 megawatt.
Selain penambahan mesin sewa 20 megawatt yang sudah beroperasi itu, terdapat pula proyek PLTD sewa yang sedang dalam tahap konstruksi di PLTD Sungai Wie, yaitu PLTD Arema Maju Bersama dengan output daya 15 megawatt berbahan bakar MFO yang diperkirakan selesai akhir Agustus 2012. "Ini untuk memperkuat cadangan daya di Sistem Khatulistiwa," jelas Idaman.
Dia menjelaskan, dengan masuknya mesin 20 megawatt di PLTD Sungai Wie, Singkawang itu, terdapat beberapa keuntungan. Di antaranya kecukupan daya pembangkit terhadap kebutuhan daya, khususnya di sistem kelistrikan Khatulistiwa.
Selanjutnya, aliran beban (load flow) pada Sistem Khatulistiwa menjadi seimbang antara Sistem Pontianak dan sekitar dengan Sistem Singkawang sekitarnya. "Artinya masing-masing sistem sudah mandiri, sehingga daya dapat mencukupi beban," terang Idaman.
Dengan kata lain, Kota Singkawang dan sekitarnya tidak lagi mendapat suplai listrik dari Kota Pontianak, seperti selama ini terjadi. "Bahkan kalau siang hari, malah Kota Singkawang yang bisa menyuplai listrik ke Kota Pontianak," kata Idaman.
Dengan kemandirian daya listrik tersebut, jelas Idaman, secara teknis akan meningkatkan keandalan sistem kelistrikan dan hal tersebut sangat berarti, khususnya dalam menyambut bulan suci Ramadan dan Idulfitri.
Untuk menjaga sistem kelistrikan yang sudah andal ini, PLN Wilayah Kalbar mengimbau masyarakat agar tetap dapat membantu PLN dalam menghemat pemakaian listrik terutama ketika beban puncak dari pukul 17.00 hingga 22.00.
Terpenting, hendaknya warga tidak bermain layang-layang dengan tali kawat, karena selama ini hal itu mengganggu keandalan kelistrikan dan juga mengganggu ketertiban umum.
Di tempat yang sama, Manajer PT PLN (Persero) Area Singkawang Arief Kuncoro mengatakan dengan adanya mesin sewa tersebut, listrik di Singkawang tidak lagi bergantung suplai dari Pontianak. "Tidak akan ada pemadaman terencana. Kalaupun padam, mungkin dikarenakan adanya gangguan eksternal, seperti tali kawat layang-layang atau lainnya yang mengganggu jaringan listrik," ujarnya. (*)

UMK Singkawang Naik Rp 75 Ribu

SINGKAWANG – Upah Minimum Kota (UMK) Singkawang tahun 2012 sebesar Rp 925 ribu per bulan, atau naik Rp 75 ribu dibanding tahun sebelumnya Rp 850 ribu. Para pengusaha diminta untuk mematuhinya.
"Karena standar upah tahun ini sudah ditetapkan, sudah menjadi kewajiban bagi perusahaan untuk melaksanakannya dan memberikan hak-hak karyawannya," kata Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Singkawang Zulhiar, ditemui di ruang kerjanya, baru-baru ini.
Dia menjelaskan, penetapan UMK Singkawang telah melalui proses panjang yang melibatkan beberapa pihak, termasuk Dewan Pengupahan. Setelah berbagai pertimbangan, termasuk melihat Kebutuhan Hidup Layak (KHL) di Singkawang, maka disepakati UMK Singkawang tahun ini Rp 925 ribu per bulan.
Kebijakan itu tentunya menjadi standar minimal bagi setiap perusahaan yang beroperasi di Singkawang untuk memberikan upah sesuai yang ditetapkan tersebut. Kenaikan UMK diharapkan juga memberikan dorongan bagi karyawan di Singkawang, untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerjanya. "Sehingga tidak merugikan pihak perusahaan," ujarnya. (*)

Investasi Singkawang Menjanjikan

SINGKAWANG – Sejak 2009 hingga 2011, perkembangan dunia investasi di Kota Singkawang bergerak positif. Diproyeksikan akan meroket pada 2012. Hal tersebut karena dukungan keamanan yang tetap kondusif.
"Saya kira kita bisa menjamin investor bahwa Singkawang aman untuk berinvestasi," kata Dr KRA Hasan Karman Notohadiningrat, Walikota Singkawang kepada wartawan, kemarin (4/1).
Pada 2009, nilai investasi di kota wisata ini sekitar Rp 156 miliar. Satu tahun berikutnya, nilai tersebut melonjak drastis menjadi sekitar Rp 2,1 triliun,
Tetapi sempat menurun pada 2011 menjadi Rp 564,8 miliar. Kendati demikian, diproyeksikan akan meroket pada 2012, karena kepercayaan investor terhadap Singkawang semakin baik.
Kepercayaan yang tumbuh itu, jelas Hasan Karman, karena kondisi keamanan yang tetap kondusif. Sehingga Singkawang aman bagi investor yang memang sudah sejak lama ingin menanamkan modalnya. "Faktor inilah yang menjadi landasan semakin meningkatnya investasi," ujarnya.
Dia berkeyakinan, dari data tersebut sangat dipahami bahwa dunia investasi Singkawang bergerak naik. Belum lagi ditambah dunia wisata yang mulai mengalami perkembangan positif. Selain dunia investasi yang mengalami peningkatan, dunia perbankan juga meningkat. Hal ini menjadi indikator warga semakin sejahtera.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), jumlah deposito dan rekening di Kota Singkawang pada 2010 mencapai Rp 2,3 triliun, dan meningkat drastis pada 2011 menjadi Rp 3,4 triliun.
"Kalau kita lihat data tersebut, dapat menjelaskan bahwa secara global perekonomian masyarakat bergerak positif," pungkas Hasan. (*)

Singkawang Butuh Zona TPA Baru

SINGKAWANG – Untuk menerapkan sanitary landfill, yakni suatu metode pemusnahan sampah, Kota Singkawang membutuhkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang baru. Pasalnya, fasilitas yang ada sudah penuh.
"Sekarang zona penimbunan yang digunakan untuk metode sanitary sudah penuh. Sehingga diperlukan zona baru untuk itu," kata Abdul Syukur, Kepala Bidang (Kabid) Kebersihan, Dinas Kebersihan dan Perumahan Kota Singkawang ditemui di ruang kerjanya, kemarin (10/1).
Menurut Syukur, untuk membangun zona penimbunan tersebut membutuhkan dana yang tidak sedikit. Hal inilah yang menjadi permasalahannya. "Yang ada sudah penuh, meskipun dipaksakan tidak bisa. Mudah-mudahan ada perhatian dari pemerintah dalam membangun zona baru ini," harapnya.
Metode sanitary landfill ini dinilai sangat efektif untuk meminimalisasi pencemaran lingkungan yang dapat menyebarkan penyakit. Selain itu, dapat menghilangkan bau di tempat-tempat penimbunan sampah.
Pemkot Singkawang melalui Dinas Kebersihan dan Perumahan sudah menerapkan metode sanitary landfill, yakni metode pemusnahan sampah yang direkomendasikan Menteri Lingkungan Hidup, sesuai UU 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah. "Ini salah satu solusi untuk mengurangi sampah yang menumpuk di Kota Singkawang," kata Syukur.
Dia menjelaskan, TPA yang menggunakan sanitary landfill sangat cocok untuk kondisi di Indonesia pada umumnya, dan Singkawang khususnya. Karena sebagian besar sampahnya merupakan sampah organik. Dengan metode tersebut, air limbah sampah (leach ate) yang keluar dapat diolah terlebih dahulu agar tidak berbahaya.
"Metode sanitary landfill sudah dilaksanakan di Kota Singkawang sejak adanya bantuan alat dari pemerintah pusat berupa excavator dan bulldozer, beberapa bulan yang lalu," ungkap Syukur. (*)

Pempus Perbaiki 200 Rumah di Singkawang

SINGKAWANG – Pemerintah pusat (pempus) melalui APBN Perubahan mengalokasikan dana Rp 1 miliar untuk Peningkatan Kualitas Perumahan (PKP) di Kota Singkawang. Bantuan tersebut untuk 200 unit rumah, masing-masing Rp 5 juta.
"Empat kelurahan di Singkawang memperoleh PKP untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)," ungkap Hamdi S ST, Kepala Bidang (Kabid) Perumahan Dinas Kebersihan dan Perumahan Kota Singkawang, usai penyerahan bantuan dari Kementerian Perumahan Rakyat di Aula Kecamatan Singkawang Tengah, Sabtu (31/12) lalu.
Lebih perinci Hamdi menyebutkan, 75 unit rumah di Kelurahan Bukit, 75 unit di Roban, 25 unit di Condong, dan 25 unit di Kuala. "Untuk tahap sekarang diprioritaskan dari atap daun menjadi atap seng. Kelebihannya baru untuk perbaikan lantai," jelasnya.
Dia mengatakan, sasaran bantuan dari pempus untuk MBR sesuai laporan dari RT, kelurahan, dan kecamatan yang telah diverifikasi tim yang telah ditunjuk. "Bantuan ini harus cluster (satu hamparan), supaya mempermudah bagi Prasarana Sarana Umum (PSU) berupa peningkatan lingkungan, seperti jalan lingkungan, air bersih, drainase, MCK, atau penerangan jalan," papar Hamdi.
Penyerahan bantuan dari Kementerian Perumahan Rakyat RI itu dilakukan Walikota Singkawang Dr KRA Hasan Karman Notohadiningrat secara simbolis, disaksikan Camat Singkawang Tengah Armand dan masyarakat yang memperoleh bantuan.
"Kita patut bersyukur atas nikmat, di mana telah memperoleh bantuan dari APBN murni dari perubahan. Ini merupakan perjuangan kita bersama. Tetapi kita tidak boleh juga selalu berharap atau tergantung pada pemerintah, menjadi mandiri lebih baik," ingat Hasan.
Terkait bantuan dari pusat, Hasan mengharapkan masyarakat yang menerima bantuan agar memanfaatkannya sebaik mungkin. Sesuai kebutuhan dan peruntukan yang telah ditetapkan. (*)

BTC

Doge

LTC

BCH

DASH

Tokens

SAMPAI JUMPA LAGI

SEMOGA ANDA MEMPEROLEH SESUATU YANG BERGUNA