Thursday, 12 May 2011

Taiwan Bidik UMKM Kota Singkawang

Walikota Hasan Karman (kanan)
SINGKAWANG. Rombongan dari Taiwan Economic and Trade Office (TETO) atau Kantor Ekonomi dan Perdagangan Taiwan bertandang langsung ke Kota Singkawang. Kedatangannya untuk mengetahui secara langsung potensi investasi microfinance atau Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

"Semoga kunjungan ini membuat kami lebih kenal tentang Kota Singkawang. Sehingga bisa segera merealisasikan kerjasama ekonomi dan perdagangan," harap Cheng Hsin Liu, Perwakilan TETO ketika berkunjung ke Kediaman Walikota Singkawang, Selasa (10/5).

Kunjungan dari rombongan TETO tersebut diterima langsung Walikota Hasan Karman beserta beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Singkawang.

Dalam dialog yang memanfaatkan jasa penerjemah tersebut. Walikota Hasan Karman beserta jajarannya menyampaikan beberapa keunggulan Kota Singkawang termasuk potensi investasi dibidang UMKM di Kota Pariwisata ini.

Usai pertemuan tersebut, Walikota Hasan Karman mengajak perwakilan TETO tersebut ke Bank Kalbar untuk melihat langsung potensi microfinance serta menuju lokasi UMKM seperti Pabrik Keramik, karena produk dari pabrik tersebut menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan domestik dan mancanegara.

Walikota Hasan Karman mengatakan, sebenarnya hubungan Kota Singkawang dengan Taiwan sudah terjalin erat, terutama antara Taiwan dengan San Kou Yang (Singkawang Mandarin) melalui perkawinan campuran. "Jadi, antara San Kou Yang dengan Taiwan seperti terjalin hubungan kekeluargaan," jelasnya.

Apalagi, pada November 2010, Hasan Karman pernah berkunjung ke Taiwan untuk menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) atau Nota Kesepahaman di bidang pendidikan, pertanian, pariwisata dan budaya.

Kunjungan ke Taiwan tersebut dilakukan bersama Ketua DPRD Kota Singkawang, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Pertanian serta Ikatan Alumni Taiwan.

Menurut Hasan, hubungan yang telah terjalin erat tersebut hendaknya dapat dikembangkan atau diperluas lagi dalam bentuk kerjasama di bidang ekonomi dan perdagangan. "Demi kemajuan dan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Singkawang," katanya.

Selain karena hubungan erat tersebut, Hasan sangat optimis akan terjalin kerjasama di bidang ekonomi dan perdagangan dengan Taiwan, karena Kota Singkawang mempunyai berbagai potensi yang dapat diandalkan. (*)

Patung Dewa Bumi Raya Dibuang ke Parit

Patung Dewa Bumi Raya
SINGKAWANG. Vihara Tri Dharma Bumi Raya di pusat Kota Singkawang dibobol maling. Patung Dewa Bumi Raya, yang merupakan arca utama hilang dan ditemukan di parit Sungai Ruten, tidak jauh dari tempat ibadah warga Tionghoa tersebut.

"Sementara Patung Dewa Kwan Gong (Ksatria) dan Fa Kong Tie (penjaga neraka) dihancurkan di tempatnya," terang Bong Kin Jung, seorang Biksu ditemui di Vihara Tri Dharma Bumi Raya, Selasa (10/5).

Peristiwa yang menggemparkan warga Tionghoa tersebut diperkirakan terjadi pada Senin (9/5) malam. Tetapi baru disadari pagi kemarin, setelah Biksu Kin Jung masuk ke Vihara Tri Dharma Bumi Raya dan melihat patung Dewa Bumi Raya tidak ada di tempatnya.

"Ketika saya masuk ke Vihara sekitar pukul 06.00, saya kaget karena arca Dewa Bumi Raya tidak ada di tempatnya, dan dua arca lainnya (yang terbuat dari porselin, red) pecah pada bagian kepala dan lehernya putus," terang Kin Jung.

Dugaan sementara, maling masuk ke Vihara berusia sekitar 200 tahun tersebut dengan membengkas teralis di bagian kanan atas. Apalagi jejak kaki pelaku sangat jelas mengarah ke teralis yang sudah menganga tersebut.

Tidak beberapa lama, kata Kin Jung, salah seorang warga bercerita telah melihat seseorang membuang sesuatu di parit, tepatnya di bawah jembatan yang lokasinya hanya beberapa meter dari Vihara yang dikenal dengan Tai Pak Kung (Toa Pekong) itu. Dia pun bergegas ke tempat yang dimaksud. "Ternyata yang dibuang itu merupakan arca Dewa Bumi Raya," kata pria kelahiran 68 tahun silam ini.

Kin Jung buru-buru mengangkat patung dewa yang ukurannya tidak terlalu besar itu. Keadaannya masih utuh, hanya rusak sedikit di beberapa bagian. Selanjutnya Dewa Bumi Raya itu dibawa kembali ke Vihara.

Di tempat yang sama, Ketua Tri Dharma Kota Singkawang, Bong Wie Hong, sangat menyayangkan kejadian pencurian dan pembuangan patung Dewa Bumi Raya tersebut. "Kejadian ini jelas menimbulkan ketersinggungan umat, mereka jelas marah, tetapi mau marah sama siapa, pelakunya tidak jelas, saksi mata tidak ada," katanya.

Kejadian ini, kata Wie Hong, tentunya akan dapat menganggu kerukunan masyarakat Kota Singkawang yang sudah lama terbina, hidup dalam damai dengan toleransi beragama yang kuat.

"Karena kejadian ini tidak ada saksi mata, kita mengimbau kepada umat agar mempercayakannya kepada pihak kepolisian untuk mengusut tuntas. Hendaknya menahan emosi dan jangan terprovokasi," harap Wie Hong.

Pencurian dan pembuangan patung Dewa Bumi Raya ini langsung ditangani pihak kepolisian. Olehkarenanya, Wie Hong mengharapkan, pihak berwenang secepatnya menuntaskan dan menangkap pelaku. "Jangan sampai, karena kejadian ini malah menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat, bisa repot," ingatnya.

Perlakuan maling terhadap patung Dewa Bumi Raya tersebut membuat warga Tionghoa terus berdatangan ke Toa Pekong untuk memberikan penghormatan dan menyembahyangi Dewa Bumi Raya.

Penghormatan terhadap patung Dewa Bumi Raya tersebut dilakukan warga Tionghoa, karena dikhawatirkan perlakuan maling tersebut akan mendatang malapelaka di belakang hari.

Pencurian dan pembuangan patung Dewa Bumi Raya ini memang kali pertama terjadi di Toa Pekong. Tetapi, terdapat beberapa kejadian sebelumnya yang juga menimbulkan ketersinggungan umat Tonghoa.

Beberapa waktu lalu, terjadi dua kali upaya pembakaran Toa Pekong namun berhasil digagalkan, satu kali perusakan tempat dupa, satu kali perusakan patung singa. Tetapi, hingga kini pelakunya tidak diketahui sama sekali.

Vihara Tri Dharma Bumi Raya yang lebih dikenal dengan Toa Pekong ini merupakan vihara tertua di Kota Singkawang, usianya sekitar 200 tahun. Tempat ibadah ini menjadi salah satu ciri khas dan cikal bakal berdirinya Kota Singkawang.

Toa Pekong ini pernah diperluas pada 1933. Tetapi karena pada 1936 terjadi kebakaran besar yang menyebabkan rusaknya bangunan tersebut maka dilakukan beberapa renovasi.

Toa Pekong ini dipercaya sebagai tempat berdiamnya Dewa Bumi Raya. Dewa ini dipercaya sebagai dewa yang menjaga Kota Singkawang. Olehkarenanya, warga sekitarnya sering mengadakan kegiatan semacam ulang tahun bagi Dewa Bumi Raya setiap tanggal 6 bulan 6 atau 6 Juni setiap tahunnya.

Vihara ini hanya mempunyai satu lantai sebagai pusat segala aktivitas keagamaan seperti sembahyang setiap hari pada waktu sore dan lainnya. Berbagai arca atau patung terdapat di dalamnya.

Salah satu perangkat upacara yang sangat penting dalam vihara tersebut, barupa patung Pak Kong, terbuat dari kayu yang didatangkan langsung dari China. Patung inilah yang dicuri dan dibuang ke parit di bawah jembatan, kemarin.

Terpisah, Kapolres Kota Singkawang, AKBP Printo mengatakan, dengan kejadian ini, masyarakat Kota Singkawang jangan terprovokasi. "Jangan mudah menyimpulkan sesuatu mengenai siapa yang melakukan perbuatan tersebut," ingatnya.

Prianto berjanji akan mengusut permasalahan tersebut hingga tuntas dan akan mencari siapa yang melakukan pencurian dan pembuangan patung Dewa Bumi Raya ke parit tersebut. "Kita juga akan menyelidiki apakah pelakunya sama dengan pelaku perusakan sebelumnya," katanya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Kementerian Agama Kota Singkawang, H Andi Dja'far Haru mengutuk keras aksi terhadap patung Dewa Bumi Raya tersebut. "Apapun yang namanya perusakan itu dilarang, baik secara agama maupun hukum positif," katanya.

Dia juga mengajak tetap berpikiran tenang dan sabar. Jangan mudah terprovokasi pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab yang memang menginginkan Kota Singkawang ini tidak aman. "Kerukunan di Kota Singkawang ini merupakan harga mati," tegas Dja'far.

Hal senada diutarakan salah seorang Anggota DPRD Kota Singkawang, Sumberanto Tjita. "Masyarakat jangan terprovokasi, kita yakin polisi mempunyai strategi khusus untuk mengungkap siapa pelaku pencurian atau perusakan tersebut," katanya. (*)

Jasa Tv Kabel Berizin di Singkawang Nihil

SINGKAWANG. Di Kota Singkawang telah beberapa kali masyarakat mengajukan permohonan izin usaha Televisi (Tv) Kabel. Tetapi tidak pernah memenuhi syarat. Olehkarena, bila masih ada yang beroperasi, penyelenggaraan Tv berlangganan tersebut ilegal.

"Beberapa masyarakat berkoordinasi dan mengajukan permohonan izin usaha Tv Kabel ke Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kota Singkawang," ungkap Istri Handayani, Kepala Bidang (Kabid) Kominfo, Dishubkominfo Kota Singkawang kepada wartawan, Senin (9/5).

Tetapi, tambah Istri, pelaku usaha tersebut tidak pernah menindaklanjuti saran dari Dishubkominfo Kota Singkawang untuk melengkapi syarat-syarat pengajuan usaha Tv berlangganan tersebut.

Dengan tidak adanya pelaku usaha yang menindaklanjuti atau memenuhi persyaratan tersebut, maka di Kota Singkawang tidak terdapat Lembaga Penyiaran Berlangganan atau Tv Kabel yang berizin.

Istri menjelaskan, untuk memperoleh izin penyelenggaraan penyiaran Lembaga Penyiaran Berlangganan, pemohon diharuskan mengajukan permohonan tertulis ke Menteri Kominfo melalui Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) dengan mengisi formulir yang disediakan.

"Persyaratan tersebut sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Berlangganan," jelas Istri.

Sementara itu, Ketua KPID Kalbar, Faisal Reza ST yang memonitoring Tv Kabel dan Koordinasi ke Dishubkominfo Kota Singkawang, kemarin menjelaskan, berdasarkan pemantauan ke beberapa daerah, usaha Tv Kabel ini semakin marak.

"Kami menemukan makin maraknya usaha jasa penyiaran Tv Kabel yang bersifat komersil dan tidak mengantongi izin sebagaimana ketentuan yang berlaku," ungkap Reza.

Sebagai langkah awal, tambah dia, untuk menghindari semakin berkembangnya jasa Tv Kabel secara ilegal ini, pihaknya akan melaksanakan penertiban-penertiban.

Penertiban jasa Tv Kabel ilegal tersebut, jelas Reza, melalui koordinasi dengan Dishubkominfo di beberapa daerah termasuk di Kota Singkawang. "Dengan kerjasama ini diharapkan dapat dilakukan inventarisir keberadaan usaha Tv Kabel yang tidak berizin," jelasnya.

Bila ditemukan pelaku usaha yang menjalankan jasa Tv Kabel ilegal tersebut, kata Reza, akan dilakukan pendekatan preventif atau pencegahan, misalnya dengan menyarankan pelaku usaha tersebut untuk memroses permohonan izin melalui KPID Kalbar.

"Apabila pendekatan tersebut tidak mendapat respon sebagaimana mestinya, kami akan menempuh kerjasama dengan aparat penegak hukum untuk melakukan penertiban sesuai dengan peraturan yang berlaku," tegas Reza. (*)

Sungai Naram Hulu Diduga Tercemar Mercury

Sungai Naram Hulu, Singkawang
SINGKAWANG. Sejak tujuh bulan silam, air Sungai Naram Hulu, Kelurahan Sungai Naram yang berbatasan dengan Kelurahan Bukit Batu keruh dan menyebabkan gatal-gatal pada kulit. Diduga tercemar mercury dari aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Pajintan.

"Biasa kulit kita gatal-gatal, tetapi mau diapakan lagi, karena tidak ada pilihan lain," kata Eli, salah seorang Warga Sungai Naram Hulu ditemui wartawan di sela kesibukannya mencuci pakaian di sungai tersebut, Senin (9/5).

Ibu rumah tangga dua anak ini mengungkapkan, air Sungai Naram Hulu merupakan satu-satunya sumber air yang digunakan sekitar 400 Kepala Keluarga (KK). "Masyarakat di sini mencuci dan mandi di sini, karena di daerah sekitar sini tidak bisa dibuat sumur bor atau kolam, karena airnya akan masam," terangnya.

Menurut Eli, air Sungai Naram Hulu menjadi keruh, berwarna cokelat dan menyebabkan gatal-gatal terutama bila tidak turun hujan, karena adanya aktivitas PETI di hulu sungai atau di sekitar daerah Pajintan. "Jaraknya cukup jauh sekitar 18 kilometer ke hulu, melewati hutan," katanya seraya menunjuk kawasan tersebut.

Dengan kondisi tersebut, warga di sekitar Sungai Naram Hulu terpaksa membeli air hujan untuk memasak. "Satu jeriken ukuran sekitar 25 ribu harganya Rp 1.000 dan hanya untuk kebutuhan satu hari per KK yang tidak ramai, kalau dalam satu KK banyak, bisa lebih dari itu," ungkap Eli.

Hal tersebut dibenarkan warga lainnya, Duriana. "Kalau musim kemarau, kondisi air semakin parah. Padahal dulunya air di sungai ini sangat jernih. Tetapi sekarang begitu berkabut (keruh, red)," ujarnya.

Menurut Ibu sembilan anak ini, kondisi tersebut diperparah lagi dengan adanya aktivitas warga yang senang meracun ikan (tuba). "Di sini banyak ikan yang besar-besar. Makanya banyak warga yang menuba'," katanya.

Melihat kondisi tersebut, kedua ibu rumah tangga ini mengharapkan Pemerintah Kota (Pemkot) memerhatikannya. Sehingga sekitar tiga minggu lalu, masyarakat di Sungai Naram Hulu tersebut pernah melayangkan surat kepada Walikota Singkawang.

Terpisah, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Singkawang, Ir Rasiwan MM membenarkan adanya surat tersebut. "Warga memang ada mengirimkan surat ke Walikota Singkawang yang ditembuskan ke kita, mengenai kondisi air yang keruh di Sungai Naram Hulu tersebut," katanya.

Dengan adanya laporan warga tersebut, BLH Kota Singkawang langsung turun ke Sungai Naram untuk melakukan survei. "Kita sudah survei dua kali untuk melihat langsung kondisi Sungai Naram Hulu," ujar Rasiwan.

Ketika survei tersebut, Rasiwan beserta tim yang dibawanya mendengar samar-samar bunyi mesin dompeng yang biasa digunakan untuk aktivitas PETI. "Tetapi jaraknya cukup jauh ke hulu sungai, dan kita belum ke kawasan tersebut, untuk memastikannya," terangnya.

Rasiwan mengatakan, dari pengamatan kasat mata, air Sungai Naram kemungkinan sudah tercemar zat berbahaya, mercury. "Dilihat dari tingkat kekeruhan, warna dan lainnya, kemungkinan tercemar mercury," jelasnya.

Mercury (Hg) atau dikenal sebagai air raksa merupakan zat kimia yang digunakan dalam aktivitas PETI untuk memisahkan emas dengan tanah atau pasir. Limbahnya ini sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, bila kita mengingat kasus Manismata di Jepang.

Merucury merupakan salah satu jenis logam yang banyak ditemukan di alam dan tersebar dalam batu-batuan, biji tambang, tanah, air dan udara sebagai senyawa anorganik dan organic.

Sebenarnya kadar mercury dalam tanah relatif rendah, tetapi berbagai jenis aktivitas manusia dapat meningkatkan kadarnya, misalnya melalui penambangan yang dapat menghasilkan seribu ton mercury per tahun.

Manusia yang terus menerus terpapar mercury dengan kadar 0,05 HG mg/m3 udara saja akan menunjukkan gejala nonspesifik berupa nerurastenia. Sedangkan pada kadar 0,1 hingga 0,2 mg/m3 menyebabkan tremor.

Dalam keadaan normal, mercury merupakan logam yang berbentuk cairan, berwarna abu-abu, tidak berbau dengan berat molekul 200,59. Tidak larut dalam air, alkohol, eter, eter, asam hidroklorida, hidrogen bromida dan hidrogen iodide.

Zat berbahaya ini hanya larut dalam asam sulfik panas, lipid dan asam nitrat. Tidak bisa bercampur dengan oksidator, halogen, bahan-bahan yang mudah terbakar, logam, asam, logam carbide dan amine.

Bahaya mercury ini sangat beragam, bila mercury inorganik maka akan menjadi racun pada ginjal. Sementara mercury organik seperti metil merkuri akan menjadi racun bagi sistem saraf pusat.

Mercury ini terdiri atas tiga bentuk, yakni Pertama, mercury elemental (Hg) yang terdapat dalam gelas thermometer, tensimeter air raksa, amalgam gigi, alat elektrik, batu batere dan cat. Bentuk ini paling sering menyebabkan keracunan, misalnya menyebabkan emboli paru, karena bersifat larut dalam lemak.

Bila sampai ke otak, bentuk ini akan berakumulasi di korteks cerebrum dan cerebellum dimana ia akan teroksidasi menjadi bentuk merkurik. Ion merkurik ini akan berikatan dengan sulfhidril dari protein enzim dan protein seluler. Sehingga menggangu fungsi enzim dan transport sel.

Kedua, mercury inorganik, bentuk ini sangat beracun, menyerang paru-paru dan kulit. Bila terpapar secara akut atau dengan kadar tinggi, dapat menyebabkan gagal ginjal. Bentuk ini biasanya digunakan sebagai desinfektan dan sifatnya mudah terbakar.

Ketiga, mercury organik terdiri atas etil dan metil. Bentuk ini yang sering tercemar di lingkungan, misalnya dalam tubuh ikan bila airnya terpapar mercury. Bila ikan tersebut dikonsumsi manusia akan menyebabkan gangguan neurologis dan kongenital.

Bentuk ini dapat menimbulkan degenerasi neuron di konteks cerebri dan cerebellum mengakibatkan parestesi distal, ataksia, disartria, tuli dan penyempitan lapang pandang. Metil merkuri gampang masuk plasenta dan berakumulasi dalam fetus yang mengakibatkan kematian dalam kandungan dan cerebral palsy.

Rasiwan mengatakan, terkait air Sungai Naram Hulu baru bersifat dugaan, karena belum ada kajian yang lebih mendalam untuk memastikan, apakah Sungai Naram Hulu benar-benar tercemar mercury atau tidak. "Kita sudah mengambil enam sampel dari air Sungai Naram Hulu itu," ungkap Rasiwan.

Enam sampel tersebut terdiri atas, tiga bagian dari air sungainya, sedangkan tiganya lagi dari sagimentasinya. "Kita mengambil sampai di tiga tempat di sepanjang Sungai Naram Hulu tersebut," terang Rasiwan.

Sampel yang telah diambil tersebut, kata Rasiwan, telah diserahkan ke laboratorium di Kota Pontianak untuk diketahui apa saja kandungan dalam air yang diduga tercemar mercury tersebut. "Kita sedang menunggu hasil pemeriksaan di laboratorium tersebut, biasanya tidak lama, mudah-mudahan dalam minggu-minggu kita sudah mendapatkan hasilnya," harapnya.

Dari pemeriksaan laboratorium tersebut, tambah dia, akan diketahui apakah air Sungai Naram Hulu tercemar mercury dan zat berbahaya lainnya atau tidak. "Bila dugaan pencemaran tersebut benar adanya, kita akan segera mengambil tindakan yang diperlukan," kata Rasiwan.

Tindakan tersebut, jelas Rasiwan, tentunya akan berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait. "Apapun hasilnya dari laboratorium itu tetap akan kita sampaikan ke masyarakat, bila benar terkandung zat berbahaya, kita akan mengambil beberapa tindakan dengan berkoordinasi dengan instansi terkait," ujarnya tanpa merinci.

Rasiwan angat berterima kasih sekali dengan masyarakat di Sungai Naram Hulu yang bersedia melaporkan pencemaran lingkungan tersebut. "Ini menandakan kalau masyarakat sangat peduli akan lingkungan. Kita pasti akan menindaklanjuti laporan tersebut," janjinya. (*)

SHU KPN Sinka Anjlok Rp 119,1 Juta

SINGKAWANG. Sisa Hasil Usaha (SHU) Koperasi Pegawai Negeri (KPN) Sinka pada 2010 turun sekitar Rp 119,1 juta dibandingkan tahun sebelumnya, dari sekitar Rp 1,001 miliar menjadi sekitar Rp 882,1 juta.

"Penurunan tersebut, terjadi karena adanya pemberlakuan pajak," jelas Drs Taslim Salimi MSi, Ketua KPN Sinka ketika Rapat Anggota Tahunan (RAT) KPN Sinka di Aula Hotel Dangau Singkawang, Kamis (5/5).

Taslim menjelaskan, pada 2009 SHU KPN Sinka sekitar Rp 1,001 miliar. Sedangkan pada 2010 sekitar Rp 1,025 miliar. Tetapi karenanya adanya pajak sekitar Rp 143,6 juta, maka SHU KPN Sinka pada 2010 menjadi sekitar Rp 882,1 juta.

Hal tersebut disampaikan Taslim dalam RAT KPN Sinka Tahun Buku 2010 yang bertujuan menyampaikan hasil-hasil pelaksanaan program kerja dan laporan pertanggungjawaban Pengurus KPN Sinka terhadap kinerja sejak 1 Januari hingga 31 Desember 2010.

Dalam RAT tersebut selain pengurus dan anggotanya, juga hadir Walikota Singkawang Dr Hasan Karman selaku Pembina KPN Sinka diwakili Asisten Ekonomi dan Pembangunan Drs Yohanes A Urip, Ketua Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia (PKP-RI) Kalbar Arsyad Djarnie, Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Singkawang, mitra kerja KPN Sinka dan lainnya.

Menurut Ketua PKP-RI, Arsyad Djarnie, bila dibandingkan 2009, SHU KPN Sinka pada 2010 memang mengalami penurunan, tetapi bila dibandingkan beberapa tahun lalu, SHU saat ini jauh lebih besar. "Tahun-tahun lalu belum kena pajak, karena SHUnya masih kecil," jelasnya.

Semakin baiknya nilai SHU KPN Sinka tersebut, menurut Arsyad karena adanya kenaikan Simpanan Wajib Anggota menjadi Rp 50 ribu per bulan pada 2010. Kenaikan itulah yang menjadi pertimbangan diberlakukannya pajak pada 2010.

Dengan pemberlakukan pajak terhadap SHU tersebut, Arsyad mengharapkan, KPN Sinka tetap dapat berkembang kendati dihadapkan pada beberapa kendala. "Saat ini kita mempunyai kendala dalam menghimpun kader koperasi. Hal ini tentunya menjadi tantangan bagi kita, agar ke depannya koperasi bisa menjadi kuat," katanya.

Di tempat yang sama, Walikota Singkawang, Dr Hasan Karman dalam sambutannya yang dibacakan Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Kota Singkawang, Drs Yohanes A Urip mengharapkan, dalam RAT yang merupakan forum tertinggi dalam KPN Sinka itu dapat memberikan masukan yang terbagi untuk koperasi.

"Kepada anggota manfaatkan forum ini sebaik mungkin, kepada pengurus untuk menyampaikan secara transparan dan tidak ada yang ditutupi dan kepada dinas terkait saya berharap untuk memajukan koperasi agar dapat berjalan ke arah yang lebih baik lagi," kataYohanes. (*)

Buang Sampah pada Tempat dan Waktunya

SINGKAWANG. Untuk menjaga agar Kota Singkawang tetap bersih, masyarakat diimbau untuk tidak membuang sampah sembarangan. Selain itu, pembuangan hendaknya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

"Buanglah sampah di TPS (Tempat Pembuatan Sampah, red) tepat pada waktunya," kata H Rustam Effendi, Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT), Dinas Kebersihan Umum (Diskebrum) Kota Singkawang kepada wartawan, Minggu (8/5).

Rustam menjelaskan, di beberapa sudut Kota Singkawang telah disediakan TPS agar masyarakat tidak membuat sampah sembarangan. Selain itu juga telah ditentukan waktu pembuangan sampah, yakni sejak 05.00 hingga 17.00.

Membuang sampah tepat pada waktunya, jelas Rustam, sangat penting dilakukan, agar para Petugas Kebersihan dapat mengambilnya untuk dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pasukan Kuning ini mengambil sampah di TPS-TPS sejak pukul 05.30.

Untuk mengatasi masalah sampah tersebut, setiap pukul 05.30 WIB Pasukan Kuning setiap hari sudah turun kelapangan menuju ke TPS – TPS untuk membersihkan sampah yang ada. "Hendaknya masyarakat dapat membantu kelancaran Pasukan Kuning," harap Rustam.

Rustam menjelaskan, pemerintah membuat jadwal pembuangan sampah tersebut agar Kota Singkawang yang pernah mendapat penghargaan Adipura pada 2009 tetap bersih.

"Khusus untuk pasukan yang menyapu di jalan, sudah ada schedule atau jadwal tersendiri. Jadwal armada angkut juga sudah kita susun sesuai kebutuhan angkutan di lapangan, " jelas Rustam.

Menurut dia, menjaga kebersihan ini sangat dan memerlukan peran serta masyarakat, karena selain untuk menjaga agar lingkungna tetap sehat juga berpengaruh pada minat wisatawan untuk berkunjung ke Kota Singkawang yang juga disebut sebagai Kota Pariwisata. "Makanya kebersihan Kota Singkawang ini menjadi perhatian serius bagi kita," pungkas Rustam. (*)

Jangan Hanya Tanam Pohon, Tapi Juga Rawat

Ny Emma Hasan Karman
SINGKAWANG. Sebagai salah satu wujud untuk mengurangi dampak pemanasan global (global warming), Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) telah berkali-kali mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menanam pohon. Tetapi hal tersebut harus diimbangi dengan perawatan.

"Agar penanaman pohon tidak sia-sia, maka tidak boleh dilupakan adalah pemeliharaan dan perawatannya," kata Elisabeth Majuyetty Hasan Karman, Ketua TP-PKK Singkawang kepada wartawan, Minggu (8/5).

Ny Emma Hasan Karman–sapaan akrab Elisabet Majuyetty–mengatakan, bila tidak dilakukan pemeliharaan terhadap pohon-pohon yang sudah ditanam, niscaya pohon-pohon tersebut akan mati. "Kelestarian lingkungan niscaya tidak akan terwujud," ingatnya.

Melestarikan lingkungan hidup merupakan salah satu sasaran Gerakan PKK. Untuk mewujudkan tersebut, telah lima kali dilakukan penanaman pohon besar-besaran yang melibatkan seluruh elemen masyarakat Kota Singkawang.

Sebagai contoh, pada Jumat (6/5) lalu, telah dilakukan penanaman pohon yang melibatkan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Singkawang, instansi-instansi vertikal, BNI 46, PT Askes, PT Fajar Group, SSA, Yayasan Budha Tzu Chi, BPKS,

Menurut Emma, berbagai kegiatan penanaman pohon selama ini hendaknya dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi menyelamatkan lingkungan, agar dampak global warming dapat diminimalisir.

"Dengan menanam pohon maka akan menjadikan lingkungan sekitar kita hijau dan terlihat indah. Lingkungan juga akan menjadi sehat. Lingkungan hijau dan bersih tentunya menjadi dambaan bagi setiap orang dan nantinya akan menuju daerah yang sehat dengan lingkungan yang sehat pula," papar Emma. (*)

Membaca Belum Membudaya di Masyarakat

SINGKAWANG. Dibandingkan negara-negara maju seperti di Eropa dan lainnya, budaya membaca di Indonesia, termasuk di Kota Singkawang masih sangat rendah. Sehingga dibutuhkan kerja keras agar membaca itu menjadi membudaya.

"Harus kita akui, minat membaca di negara kita ini masih belum membudaya. Tetapi, tidak ada kata terlambat bagi kita untuk memulainya," kata Dr Hasan Karman, Walikota Singkawang ditemui di Hotel Dangau Singkawang, baru-baru ini.

Untuk memulai membudayakan membaca itu, menurut Hasan, tentunya harus dimulai dari keluarga. "Minat membaca harus ditumbuhkan sejak dini, melalui teladan dari orangtua terhadap anak-anaknya. Karena orangtualah yang mengajar anak-anaknya seperti mengenal huruf atau lainnya," katanya.

Menurut dia, setelah di keluarga tentunya melalui sekolah. Tetapi tentunya untuk menumbuhkan minat membaca tidak bisa hanya mengandalkan sekolah, karena waktu anak lebih banyak di luar sekolah.

Olehkarenanya, tambah dia, masyarakat juga harus berperan aktif untuk membudayakan membaca ini. Termasuk para Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), instansi-instansi vertikal, pihak swasta, organisasi kemasyarakatan, yayasan dan lainnya.

"Pemerintah sudah mencanangkan Gerakan Singkawang Membaca (GSM), hendaknya ini didukung semua pihak. Saya mendapat respon baik dari beberapa kalangan, di mana mereka akan menyumbangkan buku-buku ke perpustakaan," ungkap Hasan.

Belum membudayanya minat membaca ini memang mau tidak mau harus diakui. Berdasarkan jumlah pengunjung Perpustakaan Daerah Kota Singkawang masih jauh dari yang diharapkan.

Pada 2009, jumlah pengunjung di Perpustakaan Daerah Kota Singkawang hanya sekitar 3.306 orang, terdiri atas 444 pelajar, 753 mahasiswa dan 2.109 masyarakat umum. Berarti jumlah pengunjung perpustakaan rata-rata hanya 9 hingga 10 orang per hari. Padahal jumlah bukunya mencapai sekitar 8.390 eksemplar dengan berbagai jenis dan judul buku.

Jumlah pengunjung tersebut pun hanya bersifat sporadis, dalam artian bukan sebagai member atau anggota. Pada 2009, Perpustakaan Daerah Kota Singkawang hanya menerima 358 pendaftaran anggota baru, terdiri atas 86 pelajar, 76 mahasiswa dan 196 masyarakat umum.

Menurut Walikota Hasan Karman, selain dikarenakan minat membaca masyarakat yang kurang, rendahnya jumlah pengunjung ke perpustakaan tersebut dimungkin karena minimnya jumlah pustakawan. Pengelolaannya masih ditangani staf-staf yang tentunya kurang profesional.

Keberadaan pustakawan ini sangat penting, karena untuk mengelola perpustakaan juga diperlukan kiat-kiat atau terobosan. Pemerintah sudah berupaya menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan, pusat perbukuan, penerbit, toko buku, media cetak dan organisasi kemasyarakatan untuk mengembangkan perpustakaan.

Dia juga mengharapkan peran masyarakat untuk mendorong minat membaca di masyarakat, misalnya dengan menciptakan ruang perpustakaan yang nyaman agar pengunjung merasa betah.

Kelengkapan koleksi buku, juga hendaknya menjadi perhatian pengelola perpustakaan dan harus selalu di update, agar kaya informasi dan ilmu pengetahuan.

Perpustakaan dituntut untuk tetap menjaga eksistensinya sebagai tempat membaca dan menghadirkan suasana yang nyaman di tengah hiruk pikuk kehidupan dan masalah-masalahan yang selalu menghampiri masyarakat. (*)

BTC

Doge

LTC

BCH

DASH

Tokens

SAMPAI JUMPA LAGI

SEMOGA ANDA MEMPEROLEH SESUATU YANG BERGUNA